Besaran-besaran listrik


Tegangan listrik (Electricity)

Adalah potensi/tekanan listrik dari suatu sumber listrik, besar tegangan listriknya ditentukan oleh perbedaan potensi antara satu titik dengan titik lainnya. Satuan tegangan listrik adalah Volt (V) dan mempunyai simbol huruf E. Alat untuk mengukur tegangan listrik adalah Voltmeter.

Kuat arus (Intensity)

Adalah banyak muatan listrik yang mengalir tiap detik melalui suatu penghantar. Satuan kuat arus listrik adalah Ampere (A) dan mempunyai simbol I. Alat untuk mengukur kuat arus listrik adalah Ampere meter.

Hambatan listrik (Resistance)

Adalah rintangan yang dihadapi oleh aliran listrik pada suatu penghantar. Satuan untuk mengukur hambatan listrik adalah Ohm (Ω) dan mempunyai simbol R, alat untuk mengukur hambatan listrik adalah Ohm Meter.

Dari percobaan yang dilakukan George Simon Ohm menghasilkan Hukum Ohm dan ditulis dalam bentuk rumus:

Ket :

E = tegangan listrik (Volt)

I = kuat arus listrik (Ampere)

R = hambatan listrik (Ohm)

Daya listrik (Power)

Adalah kekuatan yang dikandung dalam aliran arus dan tegangan listrik melalui hambatan dengan besaran tertentu. Satuan ukuran daya listrik adalah Watt (W) dan mempunyai simbol P. Dapat dirumuskan sebagai berikut:

P = E x I

Ket:

P = daya listrik (Watt)

E = tegangan listrik (Volt)

I = kuat arus listrik (Ampere)

Hubungan antara besaran-besaran listrik menghasilkan rumus sbb:

Advertisements

Teori Elektron


Teori Elektron dapat dirumuskan:

  • Tiap zat terdiri atas molekul yang memiliki sifat sama dengan zat aslinya
  • Atom adalah bagian dari molekul dan memiliki sifat yang berbeda dengan zat aslinya
  • Tiap atom terdiri atas inti yang dikelilingi oleh 1 atau lebih elektron
  • Inti atom bermuatan positif
  • Elektron bermuatan negatif
  • Inti terdiri atas proton dan neutron
  • Pada atom netral muatan proton sama dengan muatan elektronnya
  • Elektron berputar mengelilingi inti dengan kecepatan 300.000.000 m/s

Hukum Ohm


Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda potensial yang diterapkan kepadanya.[1][2] Sebuah benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan kepadanya.[1] Walaupun pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis penghantar, namun istilah “hukum” tetap digunakan dengan alasan sejarah.[1]

Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan:[3][4]

V = I R\

dimana I adalah arus listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere, V adalah tegangan listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt, dan R adalah nilai hambatan listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm.

Hukum ini dicetuskan oleh George Simon Ohm, seorang fisikawan dari Jerman pada tahun 1825 dan dipublikasikan pada sebuah paper yang berjudul The Galvanic Circuit Investigated Mathematically pada tahun 1827. [5]